Tampilkan postingan dengan label Nick Doren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nick Doren. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Oktober 2015

Selamat Menempuh Hidup Berkeluarga, Rusly & Carline

 "BERSUKACITALAH DALAM PENGHARAPAN, SABARLAH DALAM KESESAKAN 
DAN BERTEKUNLAH DALAM DOA"
( ROMA, 12 : 12 )

Rusly dan Carline Berpose Bersama Setelah Misa Pemberkatan Nikah
Jumat, 23 Oktober 2015 menjadi moment bersejarah bagi keluarga Bpk. Yohanes Lewa Doren dan Ibu Maria Nogo Ritan. Di hari penuh rahmat ini, anak perempuan mereka, Yuliana Carolina Djawa Doren, akhirnya memberanikan diri untuk mengikrarkan janji suci perkawinan dengan suaminya, Theophillus Rusly di hadapan tiga imam dan segenap umat yang hadir. Ada berbagai rasa yang muncul manakala menyaksikan moment membahagiakan ini. Yang pasti, rasa haru bercampur bahagia menyeruak dari dalam diri dan mewujud dalam deraian air mata yang tak terbendung. Anak gadis yang kekasih itu kini  harus "dilepaskan" untuk menentukan sendiri keputusan-keputusan besar bagi hidupnya.

Sejak  Kamis, 22 Oktober 2015, keluarga Doren Lewoloba sudah berada di Dusun Woloara, Desa Ribang, Wairpelit, Sikka. Keluarga Doren tidak menghadirkan seluruh keluarga besarnya. Faktor jarak dan beberapa faktor lain menjadi pertimbangan keluarga untuk tidak melibatkan anggota keluarga dalam jumlah yang besar. Perkiraan keluarga yang hadir adalah sekitar 20 orang. Kehadiran ini menjadi bentuk dukungan langsung keluarga atas pernikahan suci yang dilangsungkan.

Misa Pemberkatan nikah berlangsung di Gereja Wairpelit pada Pkl. 09.00 Wita, dipimpin oleh tiga orang imam. Misa berlangsung khusyuk diiringi oleh koor yang semarak. Pada kesempatan ini juga, Pastor Selebran utama menyerahkan titipan berkat apostolik dari Sri Paus Fransiskus untuk pasangan Rusly dan Carline.

Perbedaan budaya seringkali menjadi masalah dalam sebuah hubungan. Pernikahan Rusly dan Carline sekaligus juga merupakan perkawinan dua budaya, Budaya Lamaholot Flores Timur dan Budaya Sikka. Berhadapan dengan situasi ini, komunikasi adalah kunci keberhasilan sebuah hubungan. Carline sendiri sudah selama dua tahun belakangan ini telah berada di Kab. Sikka, sejak bekerja di Puskesmas Nita pada tahun 2013. Semoga keluarga baru ini dapat menjadi contoh berhasilnya perpaduan dua budaya yang berbeda. 

Selamat Menempuh Hidup Baru, 
RUSLY & CARLINE

Senin, 25 Mei 2015

Pencanangan Pekan Kesehatan Ibu dan Anak Kec. Ile Mandiri Berjalan Lancar

Riangkemie, ND
Dalam rangka menyadarkan masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur mencanangkan Pekan Kesehatan Ibu dan Anak (PKIA). Tahun ini PKIA dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2015 di setiap kecamatan secara serempak.

Pelaksanaan PKIA Kec. Ile Mandiri berpusat di Desa Riangkemie. Acara dimulai dengan pelepasan rombongan pawai PKIA oleh Pak Camat Ile Mandiri yang bergerak dari Desa Watotutu dan berakhir di Desa Riangkemie. Acara pencanangan PKIA dihadiri Camat, Kapospol, Babinsa, Pastor Paroki Riangkemie, Imam Masjid Delang, Pejabat Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas Waimana, Para Kader Posyandu dan Ibu-ibu hamil.

Dalam pesannya kepada para ibu hamil, Kepala Puskesmas Waimana menegaskan pentingnya 2H2 Center yang berarti bahwa setiap kelahiran baru harus dilaksanakan pada fasilitas kesehatan yang ada. Bukan zamannya lagi melahirkan di rumah. Kepala Puskesmas mengakui bahwa pihaknya kesulitan untuk mengidentifikasi ibu-ibu hamil dengan usia kandungan di bawah tiga bulan. Masyarakat terkesan menyembunyikan kehamilannya mungkin karena kepercayaan adat atau karena kehamilan yang tidak diinginkan.

Pada kesempatan tersebut juga, Pastor Paroki Riangkemie, Rm. John Lein, Pr, mengapresiasi kemitraan yang terjalin antara Gereja dan Pemerintah dalam upaya mensosialisasikan pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak. Gereja perlu mengenal umatnya yang sedang hamil untuk diberikan perhatian secara khusus.

Selasa, 30 September 2014

Ata Lewoloba (1928)

Nick Doren - Lewoloba

Pada Tahun 1928, seorang etnolog asal Jerman, Ernst Vatter pernah melakukan kajian etnologi terhadap masyarakat Lamaholot Baipito. Beliau merasa sangat tertarik pada adat dan budaya yang hidup pada masyarakat Baipito pada saat itu. Kajian tersebut antara lain mencakup kehidupan sosial, agama, dan adat budaya setempat. 

Dalam masa penelitiannya, Ernst Vatter menetap selama kurang lebih  satu bulan di Desa Lewoloba. Beliau mendalami ritual adat masyarakat Lewoloba, konstruksi bangunan korke, dan musik-musik lokal. Hasil dari penelitiannya ini turut memperkaya buku ATA KIWAN yang dihasilkannya. Buku ini menjadi best seller di Eropa secara umum, dan Jerman secara khusus. Buku ini di kemudian hari mendorong beberapa etnolog lain untuk melakukan penelitian di lingkungan adat budaya Lamaholot.

Senin, 29 September 2014

DOB Adonara Tinggal Mimpi?

Nick Doren - Lewoloba

Gegap gempita dan sorak sorai masyarakat Tadon Adonara begitu membahana ketika cita-cita menjadikan Adonara sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB) kian mendekati kenyataan. Semuanya bermula dengan wacana penetapan 65 DOB pada Bulan Juli lalu. Ketika itu pemerintah mengusulkan 65 DOB kepada DPR RI untuk ditetapkan menjadi Propinsi / Kabupaten / Kota yang baru pada Sidang Paripurna DPR RI beberapa hari silam. Dari 65 DOB, Pemerintah lantas menyempitkan jumlahnya menjadi hanya 21 DOB. 

Padatnya jadwal Sidang Paripurna DPR RI turut berpengaruh pada jadwal penetapan DOB. Semula, penetapan DOB ditetapkan pada tanggal 24September 2014, lalu bergeser ke tanggal 25 September, dan terakhir bergeser ke tanggal 29 September. Keyakinan akan kepastian jadwal penetapan tersebut lantas mendorong pemerintah Kabupaten Flores Timur untuk mengutus 30 tokoh masyarakat ke Jakarta pada tanggal 19 September silam. Biaya transportasi dan akomodasi ke-30 TOMAS tersebut diambil dari kas daerah. Tidak berhenti sampai di situ, pada hari Senin 22 September 2014, 30 anggota DPRD Flotim, para camat se-Kabupaten Flotim, bagian pemerintahan Kab. Flotim dan sejumlah awak media diutus untuk menghadiri Sidang Paripurna DPR RI untuk mendengarkan hasil akhir keputusan Sidang yang terhormat tersebut. Dasyatnya, hingga hari ini (tgl. 29 September 2014), Adonara tak kunjung ditetapkan sebagai Kabupaten.

Harus diakui bahwa yang berwenang untuk menetapkan RUU DOB menjadi UU adalah DPR RI. Kendati demikian, media-media lokal telah banyak meyakinkan masyarakat bahwa Adonara akan benar-benar menjadi Kabupaten yang terpisah dari Flores Timur. Media lokal, termasuk juga para netizen, telah terlanjur mengambil peran yang besar dalam sebuah "kebohongan publik" terhadap masyarakat di kampung-kampung Adonara, bahwa Adonara sungguh-sungguh akan menjadi Kabupaten. Masyarakat yang tidak memiliki akses informasi yang baik, lantas mempersiapkan sejumlah acara penyambutan Kabupaten Baru. Di Waiwerang, beberapa spanduk berisi "selamat Kabupaten Adonara" telah terpasang di sejumlah sudut kota. Pemilik POM bensin Waiwerang menggratiskan bahan bakar kendaraan bermotor selama satu hari untuk pawai keliling Kec. Adonara Timur. Tidak hanya itu, untuk perayaan ini, pada tanggal 25 September 2014, masing-,masing desa di Adonara diharapkan menyumbangkan dua ekor ayam untuk acara syukuran. 

Gegap gempita ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat Adonara di Pulau Adonara saja, tetapi juga masyarakat Adonara di beberapa tempat lain, termasuk di Jakarta. Masyarakat Adonara Jakarta telah mempersiapkan acara syukuran di Lantai 5 Univ. Atmajaya Jakarta pada hari ini. Sejumlah SMS beredar agar warga Adonara dapat berpartisipasi dalam acara dimaksud.

Namun semuanya kini tampak diam membisu ketika sampai dengan saat ini Adonara belum juga ditetapkan menjadi Kabupaten. Sejenak kita bertanya, di manakah Anggota DPR RI asal NTT yang "katanya" turut berjuang secara maksimal untuk meng-kabupaten-kan Adonara? Sejumlah pihak bahkan telah menyebutkan bahwa Anggota DPR RI asal NTT tertentu telah mendapatkan bocoran bahwa Adonara telah pasti menjadi Kabupaten. Tinggal tunggu tanggal penetapannya. Dan rasa-rasanya masa "tunggu" itu harus diperpanjang entah sampai kapan. Jika bukan sekarang, dapat dipastikan bahwa cita-cita Adonara menjadi Kabupaten akan menghadapi banyak tantangan, atau bahkan hanya tinggal mimpi yang tak pasti..

Jumat, 12 September 2014

Pesona Pulau Solor Yang Memukau

Nick Doren - Lewoloba
Pelabuhan Podor, Solor Selatan

Nun jauh di ujung  Pulau Flores bagian timur, terdapat sejumlah Pulau nan indah, yang menyimpan banyak pesona alam yang masih "Perawan". Pulau-pulau tersebut adalah P. Adonara, P. Solor, dan P. Lembata. Dan kisah petualangan berikut ini adalah sebuah kisah singkat yang tak lain merupakan ungkapan syukur penulis terhadap segala keindahan alam dan keramahan masyarakat di P. Solor.

Saat ini tak banyak orang menulis atau mengisahkan sesuatu tentang Solor. Hal ini tentu saja sangat memprihatinkan manakala begitu banyak wisatawan dalam dan luar negeri ingin berkunjung ke P. Solor, namun hanya ada sedikit informasi yang tersedia. Catatan keci ini pun tentu saja tidak bisa mencakup keseluruhan pesona indah P. Solor.

Nick Doren - Lewoloba
Jalan Menuju Kelelu
Semuanya bermula ketika keluarga dari Solor mengajak saya untuk mengahadiri sebuah acara Sambut Baru / Komuni Pertama di Desa Lamawalang alias Lamawohong pada tanggal 5 Sept. yang lalu. Tepat tanggal 4, saya dan beberapa anggota keluarga lain bertolak dari Pelabuhan Larantuka menuju Pelabuhan Podor di Solor Selatan. Ada banyak Kapal Motor penyeberangan yang hilir mudik di sekitar selat Solor. Dan pilihan kami jatuh pada KMP Barcelona untuk menghantarkan kami mengarungi lautan menuju P. Solor. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam. Dan tibalah kami di Pelabuhan Podor. Betapa kagetnya saya ketika melihat keadaan pelabuhan tersebut. Pelabuhan tersebut sangat kecil. Pelabuhan tersebut hanya dapat menampung tiga kapal motor penyeberangan. Dari Podor kami bergegas menuju Lamawohong di Solor Barat.

Nick Doren - Lewoloba
Jalan Menuju Lamawohong

Dasyat!! Sungguh dasyat,  perjalanan menuju Lamawohong sangat melelahkan. Mayoritas jalannya telah rusak dan berdebu sehingga sebaiknya kita mengenakan masker. Dari  Podor, kami menelusuri jalan di pantai selatan menuju ke Solor Barat. Pantai berpasir putih Kelike dan Lemanu sungguh memanjakan mata. Hamparan karang nan indah memehuni pantai di sepanjang perjalanan kami.

Nick Doren - Lewoloba
Suasana tenang di Pantai Lamawohong

Di persimpangan Kelelu - Ritaebang, perjalanan kami tampak mulus, karena jalanannya sudah beraspal dan jarang ditemukan jalan berlobang yang terdapat di sebagian besar daerah lain di Pulau Solor. Tiba di Kelelu, terdapat sebuah Pusat Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang memasok listrik untuk beberapa desa di sekitarnya. Menurut informasi yang disampaikan masyarakat, PLTS ini adalah hasil perjuangan Bpk. Pius Lusrilanang, salah satu anggota DPR RI yang membawahi bidang kelistrikan. Tiba di persimpangan Kelelu-Lamawohong, jalan kembali berdebu. Tetapi kondisi ini telah jauh lebih baik dari tahun lalu ketika saya mengunjungi keluarga di Lamawohong. Telah ada pengerasan jalan, dan pembukaan jalan baru dari Lamawohong menuju ke Lewo Tanah Ole sejauh 8 km.

Nick Doren - Lewoloba
Pantai Lamawohong

Dan tibalah kami di desa tujuan, Desa Lamawalang atau akrab disapa dengan Lamawohong. Baru duduk kurang dari 15 menit di rumah Bpk. Martinus Gelega Werang, kami telah disuguhkan satu teko tuak putih untuk menghangatkan badan dan tambo ayam kampung. Kami bersenda gurau menceritakan perjalanan jauh dan melelahkan. Tetapi keramahtamahan warga desa seakan menepis kelelahan tersebut. Untuk diketahui, hampir setiap rumah di Desa Lamawalang, Lamawohong memiliki rumah produksi arak lokal. Hal ini membuat Lamawohong mendapatkan julukan sebagai "dealer tuak / arak". Mayoritas masyarakat di sini bekerja sebagai petani dan nelayan.

Nick Doren - Lewoloba
PLTS Kelelu

Ketika tiba giliran melihat keindahan Pantai Lamawohong, kami merasa takjub akan keindahan pantainya. Konon, lima tahun yang lalu pantai ini jauh lebih indah dari keadannnya saat ini. Dari Pantai Lamawohong, kita dapat melihat lautan lepas ke arah Laut Sawu. Lautnya yang tenang menjadikannya sebagai daerah dengan banyak jenis ikan yang hidup di dalam lautnya. Sayang sekali, sejumlah nelayan dari Lamakera dan Menanga masih melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak. Tentu saja hal ini dapat menghancurkan terumbu karang, yang pada gilirannya akan turut menghancurkan juga biota laut yang ada.

Nick Doren - Lewoloba
PLTS Kelelu

Setelah melewatkan dua hari di Lamawohong, kami pun bergerak pulang ke Larantuka. Kami hendak menempuh jalur perjalanan yang berbeda dengan sebelumnya, yaitu melalui jalan trans Ritaebang - Pamakayo. Jalanannya jauh lebih baik, dengan sedikit jalan berlobang dan kurang berdebu. Durasi perjalanan pun singkat, hanya ditempuh dalam waktu 30 menit. Setibanya di Pamakayo, kami langsung bergegas menuju ke pelabuhannya. Tak lupa sebelum naik kapal, kami berfoto ria dengan berlatarbelakang teluk Pamakayo yang indah.

Nick Doren - Lewoloba
Pelabuhan Pamakayo

Jika Anda tertarik mengunjungi Solor, datang, lihat, dan nikmatilah keindahannya.

Nick Doren - Lewoloba
Teluk Pamakayo

Sabtu, 07 Juni 2014

UPK Gerbang Emas Lewoloba Adakan Rapat Evaluasi Pertama

Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Gerakan Membangun Ekonomi Masyarakat (Gerbang Emas) Desa Lewoloba melaksanakan Rapat Evaluasi Kegiatan Program Gerbang Emas untuk Triwulan I dan II. Rapat ini dilaksanakan di Balai Desa Lewoloba pada tanggal 6 Juni 2014. Rapat ini dihadiri oleh Camat Ile Mandiri, Kepala Desa Lewoloba, Ketua BPD Lewoloba, Ketua Kelompok penerima manfaat program dana Gerbang Emas dan anggota-anggotanya.

Dalam kata sambutannya Kepala Desa Lewoloba mengatakan bahwa dana yang diterima harus dimanfaatkan utk pengembangan ekonomi di sektor ril yang ditunjukkan dengan adanya usaha yang dilakukan. Selain itu Bapak Kepala Desa pun menyampaikan bahwa evaluasi ini tidak dimaksudkan untuk menyalahkan Pihak-pihak tertentu.

Dalam Rapat ini, Ketua BPD Lewoloba, Matheus Belang, menjelaskan bahwa di dalam Ranperdes Gerbang Emas diatur secara khusus tentang Badan Pengawas, tetapi pada saat asistensi di kabupaten, keberadaan badan pengawas dihilangkan. Keberadaan badan pengawas dapat diakomodir lagi di dalam perubahan Perdes, apabila pamanfaatan dana Gerbang Emas tidak sesuai dengan peruntukkannya. Selain itu, Ketua BPD pun mengeluhkan ketiadaan dana awal yang dimiliki oleh BPD sejak pelantikannya. Keluhan ini pun direspon dengan kesepakatan untuk melakukan pencairan 7% porsi untuk BPD Lewoloba dari 1% dana Gerbang Emas per bulan. Terkait hal ini akan dibahas bersama antara UPK, Pemerintah Desa, dan BPD dalam rapat perubahan Perdes Gerbang Emas.

Selain evaluasi kegiatan, Rapat ini mengehasilkan kesepakatan untuk membuka rekening guliran yang pengelolaannya diserahkan kepada UPK atas rekomendasi Kepala Desa. Forum rapat pun menyepakati bahwa Rapat Evaluasi dan Verifikasi proposal akan dilakukan setiap tiga bulan dan hasilnya akan disampaikan kepada Tim Verifikasi Kcamatan dan Tim Verifikasi Kabupaten.

Dalam kesempatan itu, Sekretaris Desa Lewoloba, Lukas Laba Kelen mengingatkan agar setiap kelompok penerima diharapkan untuk dapat membenahi administrasi pemanfaatan dana Gerbang Emas. Rapat pun ditutup dengan santap siang bersama.

Dilaporkan oleh:

NIKOLAUS DEKA DOREN, SS.MH.


Posted via Blogaway

Rabu, 11 Desember 2013

Paus Fransiskus, Person of the Year Versi Majalah Time

Paus Fransiskus Pada Sampul Depan Majalah Time

"Jangan hanya berkhotbah, dengarkan. Jangan hanya memarahi, sembuhkan."

Majalah TIME memilih pemimpin umat Katolik dunia, Paus Fransiskus, menjadi tokoh tahun 2013. Dalam sembilan bulan pertama jabatannya di tahta Vatikan, Paus Fransiskus menempatkan diri di tengah percakapan utama masa ini – tentang kekayaan dan kemiskinan, keadilan dan transparansi, modernitas, globalisasi, peran perempuan, pernikahan, dan godaan kekuasaan.

Redaktur Pelaksana TIME, Nancy Gibbs, menjelaskan mengapa majalahnya menjatuhkan pilihan pada mantan kardinal asal Argentina itu. “Ketika batas kepemimpinan sedang diuji di banyak tempat, datanglah seorang pria tanpa tentara atau senjata, tanpa kerajaan di luar tanah sempit di Roma. Tapi dia datang dengan kekayaan dan sejarah besar di belakangnya, untuk melemparkan tantangan pada dunia,” tulis Gibbs di majalahnya, TIME, 11 Desember 2013.

Dengan dunia yang makin kecil karena teknologi yang kian canggih, mimbar sang Paus dapat terlihat bahkan sampai ke ujung bumi. Ketika dia mencium wajah seorang pria cacat atau mencuci kaki seorang perempuan Muslim, foto-fotonya bergema jauh melanpaui batas-batas Gereja Katolik.

Gereja Katolik adalah salah satu lembaga tertua, terbesar, dan terkaya di bumi, dengan pengikut setia 1,2 miliar. Perubahan di dalamnya tidak datang secara alami. Birokrat dan pastor Vatikan dituduh saling bertikai, korup, memeras, dan terobsesi dengan aturan-aturan yang dibuat dengan pikiran sempit. Di sinilah Paus Fransiskus datang dengan prinsip: jangan hanya berkhotbah, tapi dengarkan; jangan hanya memarahi, tapi sembuhkan.

Dalam kurun waktu kurang dari setahun, Paus Fransiskus telah melakukan sesuatu yang luar biasa. “Ia tidak mengubah kata-kata, tapi mengganti musiknya. Pria ini tidak hidup di istana kepausan yang dikelilingi tembok, tapi di sebuah hostel yang dikelilingi imam. Dia berdoa sepanjang waktu, bahkan ketika menunggu giliran periksa di dokter gigi. Dia menaruh mobil dinas Mercedes-nya, dan memilih memakai Ford Focus. Tak ada satu sepatu merah, tak ada salib emas, hanya besi melingkar di lehernya,” kata Gibbs.

Paus Fransiskus menolak segala kemegahan dan hak istimewanya, merilis informasi keuangan Vatikan untuk pertama kalinya, menegur Uskup Agung Jerman yang boros, bahkan menawarkan diri untuk membaptis bayi dari seorang wanita yang bercerai – yang mantan suaminya ingin dia menggugurkan kandungannya. Semua yang dilakukan sang Paus lebih dari simbol kasih sayang dan transparansi.

“Pria ini merangkul kompleksitas dan mengakui risiko bahwa gereja yang terobsesi dengan kebenarannya sendiri akan lebih banyak menimbulkan luka daripada menyembuhkan,” ujar Gibbs.

Bagi Paus Fransiskus, gereja adalah rumah sakit. Tugas utamanya adalah untuk menolong yang terluka, bukan menyanyakan kadar kolesterol ada orang yang terluka. Kadar kolesterol yang ia maksud di sini adalah kadar keimanan seseorang. (sj)
Sumber: viva news

Selasa, 03 Desember 2013

Paus Fransiskus Dinominasikan Untuk Hadiah Nobel Perdamaian

gelekatlewotanah.blogspot.com
Paus Fransiskus mencium seorang bayi di Lapangan St. Petrus
Baru-baru ini Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Argentina telah mengesahkan sebuah resolusi untuk mencalonkan Paus Fransiskus untuk meraih Hadiah Nobel Perdamaian terkait seruannya untuk mengakhiri kekerasan di Suriah.

Resolusi itu disahkan oleh mayoritas anggota parlemen dan sekarang berada di Senat untuk ratifikasi.
Anggota DPR Oscar Martinez, yang mensponsori resolusi itu, menjelaskan Paus Fransiskus sebagai “seorang pria yang sepanjang tahun ini telah menentukan dalam menjaga perdamaian internasional mengenai konflik di Suriah.”

Sejak terpilih menjadi Paus, Paus Fransiskus telah membuat seruan-seruan untuk perdamaian di Suriah.

Dia mengirimkan surat kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin,  selama KTT G20, dimana ia menyerukan kepada para pemimpin dunia yang hadir dalam pertemuan itu untuk mencari solusi damai mengakhiri kekerasan di Suriah dan menolak intervensi militer.

Konflik Suriah kini telah berlangsung selama lebih dari 2,5 tahun, sejak demonstrasi seluruh negeri itu yang terjadi pada 15 Maret 2011 untuk memprotes kebijakan Bashar al-Assad, presiden Suriah dan pemimpin Partai Ba’ath.

Pada April tahun itu, tentara Suriah mulai dikerahkan untuk mengatasi pemberontak, menembaki demonstran. Sejak itu, kekerasan telah berubah menjadi perang saudara yang telah merenggut nyawa lebih dari 115.000 orang.

Sekitar 2,2 juta pengungsi Suriah kini berada di negara-negara tetangga, sebagian besar dari mereka di Lebanon, Yordania, dan Turki.

Sekitar 6,5 juta orang Suriah diyakini telah terlantar akibat perang tersebut.