Fadjroel: Jokowi Pemimpin Masa Depan
Metrotvnews.com, Jakarta: Hasil survei Lembaga Survei Jakarta (LSJ) menempatkan Joko Widodo sebagai calon presiden dengan tingkat elektabilitas paling tinggi. Pengamat Politik Fadjroel Rachman menilai, survei tersebut berhasil memberikan cerminan tentang tokoh yang baru dengan yang lama.
"Joko Widodo terpilih sebagai pemimpin generasi baru. Survei ini berhasil memisahkan garis demarkasi (batas) kepemimpinan nasional," kata Fadjroel dalam siaran pers LSJ di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakarta, Selasa (18/2).
Ia pun menilai Jokowi sebagai pemimpin masa depan. "Jokowi merupakan pemimpin politik masa depan, sementara di bawahnya mewakili generasi maghribi (tua-red)," lanjut Fadjroel.
Fadjroel menyebut jika tingkat elektabilitas calon presiden ini berjalan hingga 2014, maka akan terjadi pembelahan garis yang luar biasa. Ia pun menilai, publik semakin pintar memilih pemimpin berikutnya berdasarkan langkah-langkah kepemimpinan.
"Publik semakin pintar menilai bahwa pemimpin yang baik itu mengurus negara bukan mengurus partai," kata Fadjroel.
Dalah hasil survei LSJ, Gubernur DKI Jakarta itu mendapat suara paling banyak sebagai calon presiden masa depan dengan 18,1 persen pemilih. Di posisi kedua ditempati Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto dengan 10,9 persen. Sementara, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto berada di posisi ketiga dengan 9,8 persen.
Sedangkan, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dipilih publik sebagai calon presiden sebanyak 8,9 persen di posisi keempat. Menyusul, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie yakni 8,7 persen. Hanya 7,2 persen publik memilih Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri sebagai calon pemimpin berikutnya.(Timi TD/Tii)
Senin, 18 Februari 2013
Fadjroel: Jokowi Pemimpin Masa Depan
Selasa, 15 Januari 2013
Apindo: Pengusaha Jujur di Indonesia Sulit Berkembang
JAKARTA, KOMPAS.com — Banyaknya
hambatan pengusaha dalam melakukan aksi bisnis dinilai tidak selaras
dengan keinginan pemerintah untuk memajukan perekonomian Indonesia.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan,
pengusaha jujur sangat sulit untuk berkembang. Berbeda halnya dengan
pengusaha yang tidak jujur.
"Mereka sulit berkembang, padahal
mereka tidak mau melakukan jalan pintas untuk misalnya memenangkan
konsesi tambang di suatu daerah," katanya, Selasa (15/1/2013).
Ia
melanjutkan, jadi pengusaha jujur di Indonesia sangat sulit, terutama
karena banyaknya konflik kepentingan antara pemerintah pusat dan daerah
terkait dengan proses otonomi daerah. Hal ini yang membuat kemungkinan
adanya pelanggaran akibat adanya konflik kepentingan.
"Kalau
kita lihat konflik kepentingan antara bupati dan pemerintah pusat
selalu terjadi, dan masalah pengusaha selalu berada di masalah
perizinan yang tidak pernah tuntas, makanya kepastian hukum masih
menjadi perhatian kita," katanya. (Arif Wicaksono/Tribun Jakarta)
Sumber :
Editor :
Erlangga Djumena
Jumat, 04 Januari 2013
Ini Tantangan Konstruksi Pembangunan Deep Tunnel Jokowi
VIVAnews - Wakil Menteri Kementerian Umum Hermanto Dardak mengatakan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ingin membangun terowongan multiguna atau deep tunnel. Saran ini belajar dari penolakan Kementerian PU ketika mantan Gubernur Sutiyoso mengajukan ide yang sama.
© VIVA.co.id
Kamis, 03 Januari 2013
Wapres: Pasar Modal RI Harus Waspada
VIVAnews - Wakil Presiden Boediono menyatakan pelaku pasar modal Indonesia harus waspada namun tetap optimistis. Pasar modal Indonesia, kata Boediono, masih memiliki potensi besar.
"Kita ada di bahtera yang solid, namun tetap masih mengarungi arus yang sulit," ujarnya ketika berbicara dalam pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu 2 Januari 2013.
Lebih lanjut ia mengatakan keadaan pasar keuangan di Indonesia saat ini memang baik. Namun keadaan ekonomi global masih perlu diwaspadai bersama.
Saat ini ekonomi Amerika Serikat mulai membaik, begitu juga dengan China. Sedangkan Eropa, Boediono menilai masih sakit dan membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh.
Pemerintah mengapresiasi pelaku pasar modal, sebab di tengah ketidakpastian IHSG masih mencatat pertumbuhan menggembirakan. Secara umum, pemerintah optimistis perekonomian akan tumbuh dengan kondisi makro ekonomi yang baik.
"Kebijakan kita konsisten sejak menghadapi krisis ekonomi pada 2008, dan kita akan terus mengelola makro ekonomi secara prudent adalah cara yang paling baik," katanya.
Tahun 2013, Boediono mengatakan nilai investasi yang menanjak pada 2012 akan terus berlanjut.
Sepanjang 2012 IHSG naik 12,94 persen, sehingga menutup perdagangan di level 4.316,69. Pada akhir tahun IHSG menduduki posisi kedelapan di jajaran indeks saham beberapa bursa Asia Pasifik.
Kinerja menggembirakan
Menteri Keuangan Agus Martowadojo menilai kinerja pasar modal sepanjang 2012 cukup mengembirakan. "Namun, akibat krisis keuangan likuiditas mengalami penurunan dari Rp4,95 triliun per hari pada 2011 menjadi menjadi Rp4,55 triliun pada 2012," kata Agus.
Dari sisi initial public offering (IPO), Agus mengatakan, setidaknya ada 23 perusahaan yang melantai di bursa saham sepanjang 2011, sedangkan yang melakukan penawaran saham (right issue) sebanyak 22 emiten.
Agus mengatakan, kinerja bursa saham cukup mengembirakan, dan masih perlu antisipasi dengan adanya pengalihan tugas pengawasan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) ke bawah koordinasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Kami ucapkan kepada OJK, semoga pengalihan ini dapat mewujudkan cita-cita bersama, yang adil, transparan, dan akuntabel, serta terciptanya sistem keuangan yang stabil." (eh)
Langganan:
Postingan (Atom)
